Rabu, 27 November 2013

Nabi Sulaiman Dengan Ratu Balqis,Jin Dan Semut ~ Dunia Islam - Ibnu Ahmad

Nabi Sulaiman Dengan Ratu Balqis,Jin Dan Semut ~ Dunia Islam - Ibnu Ahmad

Jika Perempuan Menjadi Pemimpin

Jawaban:


Masalah kepemimpinan perempuan dalam Islam merupakan masalah yang senantiasa hangat dibicarakan di kalangan para ulama dan para cendekiawan Muslim. Para ulama salaf tidak bisa menerima kepemimpinan perempuan. Mereka menolak dan melarang perempuan menjadi pemimpin. Mengangkat perempuan menjadi pemimpin hukumnya haram. Mereka berkeyakinan bahwa perempuan secara mutlak tidak berhak menjadi pemimpin, baik secara domestik di kalangan rumah tangga maupun secara publik di tengah-tengah masyarakat. Kaum perempuan hanya berhak dipimpin oleh kaum laki-laki, baik dalam lembaga keuangan, perdagangan, dan bisnis maupun dalam lembaga pendidikan dan profesi; lebih-lebih dalam lembaga peradilan, hukum dan politik.

Ada dua alasan ulama yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin. Pertama, berhujah dengan Surah An-Nisa yang berikut: "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz (meninggalkan kewajiban selaku istri, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka; tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar. (QS An-Nisa (4): 34).

Kedua, mereka berhujah dengan Hadits yang berasal dari Abi Bakrah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad, Nasa'i dan Tirmidzi yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat pemimpin mereka seorang perempuan". (HR Bukhari, Ahmad, Nasai dan Tirmidzi).

Hadis ini dipahami oleh mereka sebagai bentuk larangan untuk memilih dan mengangkat perempuan sebagai pemimpin. Penegasan dalam hadis tersebut, bahwa suatu kaum yang memilih perempuan untuk menduduki kepemimpinan dalam jabatan politik dan pemerintahan yang bertanggung jawab atas semua aspek kehidupan yang menjadi hajat hidup orang banyak tidak akan pernah meraih kebahagiaan, menurut mereka, mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa perempuan tidak berhak untuk menjadi pemimpin dalam jabatan publik, lebih-lebih dalam kepemimpinan politik dan pemerintahan.

Perempuan, menurut mereka, mempunyai tugas mulia, mendidik anak di rumah guna menyiapkan generasi yang berakhlak mulia. Sementara ulama kiwari berpendapat bahwa Persoalan kepemimpinan dalam Al Qur'an itu bukan soal memilih laki-laki atau perempuan, tetapi siapa di antara mereka yang paling memiliki kesanggupan, kompetensi, dan kredibilitis sebagai pemimpin, maka dialah yang berhak jadi pemimpin.

Adapun ukuran atau kriteria umum tentang kesanggupan, kompetensi, dan kredibilitisa kepemimpinan itu adalah kualifikasi dan syarat-syarat yang tersurat di dalam Surah At-Taubah ayat 71 di atas sebagai berikut:

Pertama, beriman kepada Allah dengan pengamalan agama yang kuat dan mantap sebagaimana pesan Allah kepada Nabi Yahya AS sebagai berikut, "Wahai Yahya, ambillah dan pelajarilah Kitab itu dengan kuat yakni dengan sungguh-sungguh". (QS Maryam (19): 12).

Indikasi atau tanda-tanda pengamalan agama yang kuat dan mantap itu adalah: (1) Beragama dengan dukungan ilmu sehingga beragama itu diperkuat dengan akal budi, nalar dan logika; tetapi akal budi, nalar dan logika itu bukan segalanya dalam beragama. Hal ini, ---akal budi, nalar, logika, ilmu dan teori--- hanya diperlukan untuk memantapkan kita dalam mengamalkan agama.

(2) Meresapkan ajaran agama itu ke dalam hati sehingga beragama itu dengan akal sehat, rasa dan nurani yang jernih dan bersih. Singkatnya, seseorang dikatakan kuat beragama, apabila ia mengamalkan agama itu dengan akal dan hati yang bersih.

(3) Beragama itu dengan akar yang terhujam kuat ke dalam lubuk hati sehingga tidak mudah goyah, karena didukung oleh kekuatan akal sehat dan nurani yang bersih. Tiga penyangga agama ini adalah ilmu, nurani, dan lubuk hati yang kuat. Tiga penyangga agama ini akan memperkuat pengamalan agama dengan mustaqim atau istiqamah yang secara kebahasaan berarti lurus pada bidang yang datar, tegak pada bidang yang berdiri, dan tetap, baik ketika datar (horizontal) maupun ketika tegak (vertikal). Sebab istiqamah mengandung tiga dimensi lurus, tegak dan tetap.

(4) Beragama itu tidak berhenti pada ilmu, konsep, teori dan logika; tetapi juga turun ke dalam rasa, nurani dan emosi; mengakar di dalam lubuk hati; serta berbuah dalam sikap, persepsi dan aksi dalam bentuk amal saleh, baik kesalehan individu maupun kesalehan sosial.

Kedua, memiliki kemampuan untuk mendorong, memotivasi, menggerakkan dan bekerja sama dengan berbagai komponen ummat sehingga potensi ummat yang tercecer dan berserakan itu bisa disatukan menjadi kekuatan yang terpadu secara simponi dengan menyamakan persepsi, visi dan misi sehingga langkah itu terfokus menuju ke arah yang dituju. Hal ini merupakan uraian lebih rinci dari pendapat Prof Muhammad Ali As-Shabuni bahwa ayat yang berbunyi: Mereka, kaum laki-laki yang beriman dan kaum perempuan yang beriman itu, adalah saudara (mitra sejajar) dalam agama. Mereka, satu sama lain saling membantu dan saling menguatkan) sebagaimana disebutkan di atas.

Ketiga, arah dan langkah kepemimpinan itu jelas dan fokus, serta terukur dengan sistematis, bermuara pada perbaikan kualitas moral dan mental ummat; serta menjauhkan ummat dari berbagai penyakit masyarakat (patalogi social) seperti minuman keras, perjudian, perzinahan, perselingkuhan, dan berbuat mesum di tempat umum maupun di tempat yang remang-remang, serta mengikis habis hingga ke akar-akarnya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini merupakan perwujudan dari ayat yang berbunyi: Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar) (QS At-Taubah (9): 71).

Keempat, menunjukkan kesalehan individu dengan istiqamah, terutama dalam melaksanakan salat lima waktu. Sebab keharusan seorang Muslim memperhatikan salat wajib merupakan pesan Al Qur'an yang sangat penting sebagaimana tersurat pada ayat Al Qur'an yang berikut. "Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah salat karena Allah dengan khusyuk (QS al-Baqarah (2): 238).

Adapun yang dimaksud dengan salat wustha secara kebahasaan adalah salat tengah-tengah; namun yang dimaksudkan dalam hadis Nabi SAW adalah salat ashar. Sebab salat ashar itu merupakan tengah-tengah di antara kelompok shalat siang dan salat malam. Kelompok shalat siang itu terdiri atas Shalat dzuhur dan ashar; sedangkan kelompok salat malam itu terdiri dari salat maghrib dan isya.

Bagi seorang pemimpin, tidak cukup dengan hanya melaksnakan salat lima waktu secara istiqamah, tetapi juga dengan salat berjamaah; bahkan mengajak ummat untuk salat berjamaah dan mendukung pendirian masjid yang modern dengan alokasi dana dari pemerintah yang memadai bagi pemberdayaan ummat yang berbasis masjid. Sebab dalam pemberdayaan ummat, masjid merupakan kelembagaan lokal yang cukup efektif untuk menjadi pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial bagi jamaah masjid yang tergolong dhuafa seperti fakir-miskin, anak yatim, anak telantar, anak jalanan, pengemis dan gelandangan, serta para lansia yang jompo.

Kelima, menunjukkan kesalehan individu dengan istiqamah melalui kedisiplinan diri untuk membayarkan zakat. Kedisiplinan untuk membayarkan zakat merupakan tanda kesalehan individu yang pokok bagi seorang pemimpin; namun bagi seorang pemimpin tidak cukup dengan hanya patuh membayarkan zakat bagi dirinya sendiri. Kualifikasi seorang pemimpin, menurut Al-Qur`an, mendorong ummat Muslim untuk membayarkan zakat dan menjadikan zakat sebagai sarana untuk pemberdayaan dhu’afa dalam perjuangan untuk mengentaskan kemiskinan. Lebih-lebih setelah diterbitkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat dengan berdirinya Badan Amil Zakat pada setiap tingkatan pemerintahan sejak pemerintah pusat hingga pemerintahan desa.

Keenam, senantiasa menunjukkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap langkah kepemimpinnya di tengah masyarakat. Pemimpin yang baik, menurut Al Qur'an, bukanlah pemimpin yang hanya bertujuan untuk meraih kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mendapatkan kekayaan, akan tetapi pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meneguhkan dirinya dan mengajak masyarakat yang dipimpinnya mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan sebaik mungkin.

Jika keenam persyaratan ini dipenuhi dengan sebaik mungkin, maka Allah akan memberikan rahmat, yaitu kasih sayang yang tiada terhingga bagi masyarakat yang memiliki pemimpin yang berjiwa Islami. Pemimpin yang demikian ini, menurut Al Qur'an, tidak menjadi hak dan monopoli kaum laki-laki saja; tetapi boleh jadi muncul dari kalangan kaum perempuan yang cerdas, shalihah, baik kesalehan individu maupun kesalehan sosial, serta memenuhi kualifikasi kepemimpinan yang baik sebagaimana disebutkan di atas.

Di dalam Al Qur'an ada model pemimpin perempuan yang cerdas dan memenuhi kualifikasi kepemimpinan yang baik sebagaimana disebutkan di atas, yaitu pada kisah Ratu Balqis dari Negeri Saba yang memerintah Kerajaan Sabaiyah pada zaman Nabi Sulaiman AS.


Melihat kenyataan atau fakta empiris kepemimpinan politik dewasa ini seperti Gubernur, Bupati dan Walikota yang pada umumnya jauh panggang dari api dari syarat-syarat ideal di atas, baik laki-laki maupun perempuan, saya secara pribadi lebih merasa nyaman mengikuti pandangan ulama yang pertama. Kaum wanita bisa lebih focus menyiapkan generasi Muslim yang berakhlak dan berkarakter positif di rumah, tanpa kehilangan kemungkinan untuk aktif pada kegiatan sosial setelah anak-anak mereka melewati masa kritis, sejak balita hingga usia remaja akhir (18 tahun). Wassalam.

Selasa, 19 November 2013

10 petanda menunjukkan dia adalah jodoh kita

Gunakan seluruh pancaindera,Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Tuhan yang maha esa. Tetapi bagaimana kita hendak mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita? Tuhan mengurniakan manusia telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan akal untuk berfikir. Jadi gunakan sebaik-baiknya bagi mengungkapkan rahsia cinta yang ditakdirkan. Dua manusia yang rasa mereka dapat hidup bersama dan memang dijodohkan pasti memiliki ikatan emosi, spiritual dan fizikal antara keduanya. Apabila bersama, masing-masing dapat merasai kemanisan cinta dan saling memerlukan antara satu sama lain. Lalu gerak hati mengatakan, dialah insan yang ditakdirkan untuk bersama. Benarkah ia seperti yang lovely perkatakan? Berikut adalah 10 petanda yang menunjukkan dia adalah jodoh kita ; 1. Bersahaja Kekasih kita itu bersikap bersahaja dan tidak berlakon. Cuba perhatikan cara dia berpakaian, cara percakapan, cara ketawa serta cara makan dan minum. Adakah ia spontan dan tidak dikawal ataupun kelihatan pelik. Kalau ia nampak kurang selesa dengan gayanya, sah dia sedang berlakon. Kadang-kadang, kita dapat mengesan yang dia sedang berlakon. Tetapi, apabila dia tampil bersahaja dan tidak dibuat-buat, maka dia adalah calon hidup kita yang sesuai. Jika tidak, dia mungkin bukan jodoh kita. 2. Senang atau selesa bersama Walaupun kita selalu bersamanya, tidak ada sedikit pun perasaan bosan, jemu ataupun tertekan pada diri kita. Semakin hari semakin sayang kepadanya. Kita sentiasa tenang, gembira dan dia menjadi pengubat kedukaan kita. Dia juga merasainya. Rasa senang sekali apabila bersama. Apabila berjauhan, terasa sedikit tekanan dan rasa ingin berjumpa dengannya. Tidak kira siang ataupun malam, ketiadaannya terasa sedikit kehilangan. 3. Terima kita seadanya Apapun kisah silam yang pernah kita lakukan, dia tidak ambil peduli. Mungkin dia tahu perpisahan dengan bekas kekasihnya sebelum ini kita yang mulakan. Dia juga tidak mengambil kisah siapa kita sebelum ini. Yang penting, siapa kita sekarang. Biarpun dia tahu yang kita pernah mempunyai kekasih sebelumnya, dia tidak ambil hati langsung. Yang dia tahu, kita adalah miliknya kini. Dia juga sedia berkongsi kisah silamnya. Tidak perlu menyimpan rahsia apabila dia sudah bersedia menjadi pasangan hidup kita. 4. Sentiasa jujur Dia tidak kisah apa yang kita lakukan asalkan tidak menyalahi hukum hakam agama. Sikap jujur yang dipamerkan menarik hati kita. Kejujuran bukan perkara yang boleh dilakonkan. Kita dapat mengesyaki sesuatu apabila dia menipu kita. Selagi kejujuran bertakhta di hatinya, kebahagiaan menjadi milik kita. Apabila berjauhan, kejujuran menjadi faktor paling penting bagi suatu hubungan. Apabila dia tidak jujur, sukar baginya mengelak daripada berlaku curang kepada kita. Apabila dia jujur, semakin hangat lagi hubungan cinta kita. Kejujuran yang disulami dengan kesetiaan membuahkan percintaan yang sejati. Jadi, dialah sebaik-baik pilihan. 5. Percaya Mempercayai Setiap orang mempunyai rahsia tersendiri. Adakalanya rahsia ini perlu dikongsi supaya dapat mengurangkan beban yang ditanggung. Apabila kita mempunyai rahsia dan ingin memberitahu kekasih, adakah rahsia kita selamat di tangannya? Bagi mereka yang berjodoh, sifat saling percaya mempercayai antara satu sama lain timbul dari dalam hati nurani mereka. Mereka rasa selamat apabila memberitahu rahsia-rahsia kepada kekasihnya berbanding rakan-rakan yang lain. Satu lagi, kita tidak berahsia apa pun kepadanya dan kita pasti rahsia kita selamat. Bukti cinta sejati adalah melalui kepercayaan dan kejujuran. Bahagialah individu yang memperoleh kedua-duanya. 6. Senang Bekerjasama Bagi kita yang inginkan hubungan cinta berjaya dan kekal dalam jangka masa yang panjang, kita dan dia perlu saling bekerjasama melalui hidup ini. Kita dan kekasih perlu memberi kerjasama melakukan suatu perkara sama ada perkara remeh ataupun sukar. Segala kerja yang dilakukan perlulah ikhlas bagi membantu pasangan dan meringankan tugas masing-masing. Perkara paling penting, kita dan dia dapat melalui semua ini dengan melakukannya bersama-sama. Kita dan dia juga dapat melakukan semuanya tanpa memerlukan orang lain dan kita senang melakukannya bersama. Ini penting kerana ia mempengaruhi kehidupan kita pada masa hadapan. Jika tiada kerjasama, sukar bagi kita hidup bersamanya. Ini kerana, kita yang memikul beban tanggungjawab seratus peratus. Bukankah ini menyusahkan? 7. Memahami diri kita Bagi pasangan yang berjodoh, dia mestilah memahami diri pasangannya. Semasa kita sakit dia bawa ke klinik. Semasa kita berduka, dia menjadi penghibur. Apabila kita mengalami kesusahan, dia menjadi pembantu. Di kala kita sedang berleter, dia menjadi pendengar. Dia selalu bersama kita dalam sebarang situasi. Tidak kira kita sedang gembira ataupun berduka, dia sentiasa ada untuk kita. Dia juga bersedia mengalami pasang surut dalam percintaan. Kata orang, ‘lidah sendiri lagikan tergigit, inikan pula suami isteri’. Pepatah ini juga sesuai bagi pasangan kekasih. Apabila dia sentiasa bersama kita melalui hidup ini di kala suka dan duka, di saat senang dan susah, dialah calon yang sesuai menjadi pasangan hidup kita. 8. Tampilkan kelemahan Tiada siapa yang sempurna di dunia. Tipulah jika ada orang yang mengaku dia insan yang sempurna daripada segala sudut.Pasti di kalangan kita memiliki kelemahan dan keburukan tertentu. Bagi dia yang bersedia menjadi teman hidup kita, dia tidak terlalu menyimpan rahsia kelemahannya dan bersedia memberitahu kita.Sudah tentu bukan senang untuk memberitahu dan mengakui kelemahan di hadapan kekasihnya. Malah, dia tidak segan mempamerkan keburukannya kepada kita. Misalnya, apabila dia bangun tidur ataupun sakit dan tidak mandi dua hari, dia tidak menghalang kita daripada melawatnya. Apabila kita dan dia saling menerima kelemahan dan sifat buruk masing-masing, memang ditakdirkan kita hidup bersamanya. 9. Kata hati Dengarlah kata hati. Kadangkala, manusia dikurniakan Tuhan deria keenam yang dapat mengetahui dan memahami perasaan pasangannya.Dengan deria batin ini juga kita dapat saling tahu perasaan masing-masing. Kita dan dia juga dapat membaca fikiran antara satu sama lain dan dapat menduga reaksi dan tindak balas pada situasi tertentu. Apabila kita yakin dengan pilihan hidup kita, tanyalah sekali lagi. Adakah dia ditakdirkan untuk kita? Dengarlah kata hati dan buatlah pilihan. Serahlah segalanya pada ketentuan yang maha berkuasa. 10. Mimpi Jodoh dan pertemuan semuanya di tangan Tuhan. Manusia hanya perancang di pentas dunia ini dan skripnya ditulis oleh yang maha esa. Adakalanya, dalam memainkan peranan sebagai pelakon, diberi petunjuk melalui mimpi.Mimpi memang mainan tidur, tetapi apabila kita melakukan sembahyang Istikharah dan memohon supaya Tuhan memberikan petunjuk, insya-Allah dengan izinnya kita mendapat mimpi petunjuk. Jika dia pilihan kita, buatlah keputusan sebaiknya. Jika tidak, tolaklah dia dengan baik. Semua yang kita lakukan ini adalah bagi mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia. Ingatlah, nikmat di dunia ini hanya sementara. Nikmat di akhirat adalah kekal selamanya. Fikirkanlah. Adakah dia jodoh kita..? “ Manusia merancang, Allah menentukan..”

Ahad, 3 November 2013

The Rock (1996) Full Movie HD

http://www.youtube.com/v/Vum3ZUlQVJo?autohide=1&version=3&attribution_tag=7EMdFZqb9NCruPrF8Psj2Q&autoplay=1&showinfo=1&feature=share&autohide=1

Jumaat, 18 Oktober 2013

Bagaimana Ia Dibuat - Besi Berani

bradokapak: Fizik Quantum

bradokapak: Fizik Quantum: Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Selawat dan Salam ke atas Junjungan Besar Baginda Rasulullah SAW, Sekalian Para Sa...

Bloodshed-Tangisan Salju Di Khatulistiwa(HQ Audio) (+senarai main)

Cinema-Sandiwara(HQ Audio) (+senarai main)

Classmate-Kalendar Remaja(HQ Audio) (+senarai main)

Classmate-Segaris Sinar Dalam Kembara(HQ Audio) (+senarai main)

Classmate-Jarum Dan Lembing(HQ Audio) (+senarai main)

Burnmark-Bisikan Hati(HQ Audio) (+senarai main)

Jumaat, 11 Oktober 2013

Surah 18 Kahf سورة الكهف Mishary Rashid Alafasy (Arabic & Translation) H...

LELAKI"WANITA"DAN IBUKU.....

Tanggungjawab Anak Lelaki Kepada Ibu bapa Setelah Menikah. Sahabat yang dimuliakan, Apabila seorang lelaki Muslim berkahwin ia bertanggungjawab memberi nafkah dan segala keperluan kepada isterinya. Samaada nafkah zahir dan batin dan asas pendidikan Islam. Dengan kadar keperluan mengikut kemampuan suami. Bila dikurniakan anak-anak maka tanggungjawabnya akan bertambah kerana telah menjadi ayah untuk menyara segala keperluan nafkah dan pendidikan anak-anaknya pula. Walaubagaimana pun ia telah memiliki keluarganya sendiri tetapi tanggungjawab kepada kedua ibu bapanya tidak boleh diabaikan kerana ia masih terikat dengan tanggungjawab tersebut. Dalam Hadith Sahih Bukhari, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. maksudnya : “Siapakah yang perlu kita hormati dan kasihi selepas Allah dan Nabi?”Jawab Nabi “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”“Selepas itu?”- “Ibu kamu”Kali ke 4 lelaki itu bertanya, “Selepas itu?”Jawab Nabi “Ayah kamu” Lihatlah betapa tingginya nilai ibu di dalam Islam. Seorang ibu tidak ada apa cara sekalipun dapat kita membalasnya. Seorang lelaki datang kepada Sayyidian Umar al-Khattab r.a dan berkata, "Saya telah mendokong ibu saya sepanjang tawaf dan haji, sudahkah saya dapat membalas jasa ibu." Jawab Umar r.a., " Kamu belum dapat membalas jasa ibumu walaupun setitis air mata ibumu semasa melahirkanmu." Hadis di atas menjelaskan selepas Allah dan Rasul-Nya, orang yang perlu dihormati dan dikasihi adalah ibu dan bapa. Bukan setakat menghormati dan mengasihi mereka tetapi segala keperluan hidup ,keselamatan dan hak-hak mereka perlulah di penuhi sekadar kemampuan si anak tadi. Menurut Al Qurthubi, derhaka kepada kedua orang tua ialah menyalahi perintah keduanya, sebagaimana bakti keduanya bererti mematuhi perintah mereka berdua. Berdasarkan ini jika keduanya atau salah seorang dari mereka menyuruh anaknya, maka anaknya wajib mentaatinya, jika perintah itu bukan maksiat. Meskipun pada asalnya perintah itu termasuk jenis mubah, begitu pula bila termasuk jenis mandub (sunat). Dalam sebuah hadis dijelaskan, Rasulullah s.a.w. bersabda: Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: "Seorang lelaki datang kepada Rasulullah, lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, aku datang untuk berjihad bersama baginda kerana aku ingin mencari redha Allah dan hari akhirat. Tetapi aku datang kesini dengan meninggalkan ibu bapaku dalam keadaan menangis'. Lalu sabda baginda: "Pulanglah kepada mereka. Jadikanlah mereka tertawa seperti tadi engkau jadikan mereka menangis". (Hadis Riwayat Ibnu Majah) Jadi perintah ibu atau bapa yang bukan bersifat maksiat atau mempersekutukan Allah, maka kita wajib mentaatinya. Namun jika perintah nya bersifat melawan kehendak dan hukum agama, maka tolaklah dengan cara yang baik. Sahabat yang dimuliakan, Seorang wanita apabila telah berkahwin, segala tanggungan dirinya adalah dibawah tanggungan suaminya. Amanah ini telah diserahkan oleh bapa wanita tadi kepada suaminya. Bagaimana pandangan Islam kedudukan wanita tersebuat terhadap ibu bapanya? Islam amat menitik beratkan soal silaturahim, perhubungan sebagai anak dan ibu bapa perlu diteruskan seperti biasa. Wanita kena mentaati suaminya dan diberi keutamaan daripada arahan ibu bapanya kerana tanggungjawab dan ketaatan isteri perlu diberikan kepada suaminya. Walaubagaimana pun Islam melarang suami berlaku tidak adil kepada isterinya jika ada sesuatu keperluan ia ingin membantu ibu bapanya yang susah dan memerlukan bantuan. Pihak suami perlu ingat bahawa setelah ia mengawini wanita tersebut ibu bapa mertuanya adalah telah menjadi mahramnya dan sama taraf dengan ibu bapanya sendiri. Perlulah diberi kasih sayang dan segala keperluan dan hajat mereka berdua jika mereka terdiri daripada orang miskin perlulah diberi bantuan . Kedua-duanya (suami dan isteri) wajib berbuat baik kepada kedua orang tua (kedua-dua belah pihak) selagi ada hayatnya di dunia ini. Berbuat baik dalam erti kata menyenangkan hati kedua-duanya dan menjaga serta memberikan apa-apa keperluan mereka. Anak perempuan tidak terlepas tanggungjawab dan berbakti kepada orang tuanya. Jika dia mampu dia juga hendaklah berbuat baik kepada kedua ibu bapanya. Dalam Islam, lelaki adalah ketua keluarga, sebab itulah anak lelaki diberikan lebih tanggungjawab untuk menyara orang tua nya walaupun selepas berkahwin jika dibandingkan dengan perempuan yang kurang tanggungjawabnya untuk berbuat demikian selepas berumah tangga. Sebab itulah dalam Islam anak lelaki beroleh 1/2 nisbah faraid berbanding dengan anak perempuan, ini menunjukkan betapa Islam menghargai tanggungjawab yang dipikul oleh anak lelaki sebagai ketua keluarga. Namun pendapat yang mengatakan anak perempuan langsung tidak mempunyai tanggungjawab terhadap ibu bapa selepas berkahwin adalah salah sama sekali. Cuba bayangkan jika ibu bapa itu mempunyai 6 orang anak dan kesemuanya adalah perempuan adakah penat lelah selama mereka membesarkan anak-anaknya langsung tidak akan dihargai anak-anaknya selepas anak-anak tersebut berumah tangga? Ini adalah sesuatu yang tidak adil memandangkan mereka tidak merancang untuk mempunyai anak perempuan semuanya. Di zaman sekarang telah berubah, semua perempuan telah berkerjaya, seharusnya kedua-duanya anak lelaki dan perempuan sama-sama membantu untuk menyara kedua ibu bapa mereka yang telah tua sebagaimana kedua ibu dan bapa telah menyara mereka semuanya. Walaubagaimana pun sebelum apa-apa bantuan yang ingin diberikan, isteri perlulah meminta keizinan dan redha daripada suami, sesungguhnya seorang suami yang Mukmin tidak akan menghalang sekiranya isterinya ingin membantu dan memberi khidmat kepada kedua ibu bapanya yang memerlukannya. Isteri perlu faham bahawa redha Allah bergantung kepada redha suami tetapi bagi anak lelaki redha Allah bergantung pada redha ibu bapa. Sahabat yang dihormati, Dalam Islam lelaki bujang kena tanggung dosa sendiri apabila sudah baligh manakala dosa gadis bujang ditanggung oleh bapanya. Lelaki berkahwin kena tanggung dosa sendiri, dosa isteri, dosa anak perempuan yang belum berkahwin dan dosa anak lelaki yang belum baligh. Hukum menjelaskan anak lelaki kena bertanggungjawab ke atas ibu dan bapanya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya terutama anak lelaki yang tua. Manakala seorang perempuan hanya perlu taat kepada suaminya. Isteri berbuat baik pahala dapat kepadanya kalau buat tidak baik sedang suaminya membiarkan sahaja tidak menasihatinya maka dosanya ditanggung oleh suaminya. Suami kena bagi nafkah pada isteri, sedangkan pendapatan isteri tidak perlu menanggung nafkah keluarga, walaubagaimana pun isteri boleh membantu meringankan beban suami. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap empat wanita ini: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya (yang belum berkahwin). Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh empat orang lelaki iaitu suaminya, ayahnya (jika belum berkahwin), anak lelakinya dan saudara lelakinya. Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana-mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan empat syarat sahaja: 1. sembahyang lima waktu, 2. puasa di bulan Ramadhan, 3. taat suaminya dan 4. menjaga kehormatannya. Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah dan berdakwah dijalan Allah untuk mendapat redha Allah, tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata. Sahabat, Keruntuhan rumahtangga dan penceraian yang banyak berlaku di dalam masyarakat kita adalah berpunca daripada pasangan suami isteri yang tidak memahami hukum-hukum Islam. Mereka tidak memahami hak-hak sebagai suami atau isteri. Mereka meletakkan nilai kebendaan dan hawa nafsu dihadapan dan meninggalkan nilai iman dan taqwa sebagai nilai hidup mereka. Penceraian boleh berlaku hanya berpunca daripada perkara kecil yang boleh diselesaikan dengan mudah bila ada iman dan pemikiran yang resional. Jika suami faham bahawa kesabaran, lemah lembut dan bertolak ansur itu adalah akhlak yang ditunjukkan Nabi s.a.w. ketika berada di dalam perselishan pendapat dengan isteri maka si suami akan mengutamakan akhlak ini kerana sungguh besar pahalanya disisi Allah s.w.t. Dan juga kalaulah si isteri fahan bahawa betapa besarnya dosa derhaka kepada suami dan tidak akan dapat mencium bau Syurga, maka si isteri akan memilih untuk bersabar dan bertolak ansur semata-mata mencari redha Allah. Perlu diingat perasaan marah, keluarkan suara yang tinggi dihadapan suami, mengeluarkan kata-kata kesat dan ungkit mengungkit perkara lama adalah dari dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan. Syaitan memang suka perpecahan dikalangan keluarga Islam kerana dengan perpecahan ini banyak perkara-perkara negatif akan berlaku. Kedua ibu bapa samaada di pihak suami atau isteri perlulah menjadi penasihat dan pendamai yang baik bukannya menjadi batu api untuk merosakkan rumah tangga yang telah dibina. Ibu bapa yang menjadi pemusnah rumah tangga bahagia anak mereka sendiri adalah mereka-mereka yang melakukan dosa besar dan menempah tempat duduknya di Neraka, nauzubillah. Sebagai orang tua perlu bersikap positif dan tidak boleh menyebelahi mana-mana pihak jika berlaku perselisihan. Yang penting damaikanlah kerana sifat membantu dan memulihkan suasana tegang adalah sifat ibu bapa yang beriman dan bertaqwa.

ARAB & AIDIT - Bila Bulan Berwarna Biru (+senarai main)

SLASH - Taman Astakona (+senarai main)

Stings - Kau Tetap Ku Hajati (+senarai main)

Keinsafan - Krabat (+senarai main)

Misteri - Kemboja Di Pusara 1988

Di Pondok Kecil (Ae Man Feat Bazli UNIC)

Aeman - Selamat Tinggal Ibuku ( Lirik).flv

Lagu Nasyid Aeman

Ahad, 6 Oktober 2013

اناديكم .. اشد على اياديكم -gadour l'artistou

المنشد قدور : يقدم أروع وأجمل الاناشيد في مقطع فيديو

أمّاه ديني روووووووووووعة gadour

قدور في أنشودة الحجاب

Apabila Hidayah menyapa...

Bismillahirrahmanirrahim.. Pernahkah hidayah Allah menyapa hatimu wahai teman? Mesti pernah kan? Walau pun hanya sekali. Ada sahabat pernah cakap padaku, " Hidayah ni mungkin hanya akan datang sekali je dalam hidup kita. Jadi bila kita rasa hidayah tu hadir, peluklah erat-erat dan genggam lah kemas-kemas. Jangan biarkan ia terlepas pergi. Andainya terlepas, mungkin hidayah itu takkan datang lagi." Alangkah ruginya jika kita tak ambil peluang yang Allah bagi kat diri kita. Allah dah bagi peluang untuk kita berubah untuk jadi better person, tapi kita buat tak peduli. Rugi sangat-sangat. Hidayah itu umpama satu papan tanda. Ia akan menunjukkan kita ke arah destinasi yang kita tuju. Apabila kita mengikuti papan tanda yang pertama, kita akan jumpa papan tanda yang seterusnya. Tapi pastikan kita mengikut papan tanda yang betul. Barulah sampai ke destinasi yang kita tuju. Tapi sekiranya kita berpaling daripada papan tanda yang pertama itu dan mengikut papan tanda yang lain, kita akan semakin menjauh dari destinasi yang dituju. Dan akhirnya kita akan tersesat. Allah ada berfirman dalam Al-Quran: " Dan Allah akan menambahi hidayah bagi orang-orang yang menurut jalan hidayah." (Surah Maryam 19:76) Tengok tu, Allah akan menambahkan hidayah sekiranya dia menurut jalan-jalan yang betul. Dan demikianlah orang yang menerima hidayah Allah ni. Sebenarnya, kadang-kadang kita sedar Allah bagi hidayah kat kita. Allah nak kita tinggalkan benda yang salah yang sedang kita lakukan sekarang. Tapi, kita sangat sayang nak tinggalkan benda yang sedang kita buat. Ye lah. Benda mungkar ni memang seronok nak buat. Lebih-lebih lagi bila dah jadi habit. Dosa ni boleh lah dianggapkan sebagai kurap. Semakin kita garu, semakin best pulak rasa. Kalau tak dirawat, bila dah tinggal parut memang sukar nak dihilangkan. Haa, sebab tu lah bila dah buat dosa. Akan rasa nak buat lagi dan nak buat lagi. Sebabnya dah sebati dalam jiwa. Apa yang Allah suruh buat, tak pulak kita buat. Allah suruh solat. Kita cakap, alah dah tua-tua nanti aku solat la. Allah suruh tutup aurat. Kita cakap, nanti aku dah tak vogue kalau pakai tudung ni. Allah cakap jaga pandangan mata. Kita cakap, eye contact kan penting, buat pe tunduk-tunduk ni? Allah cakap couple tu haram. Kita cakap, mana ada, tengok ramai je couple tu haa. Macam-macam lagi yang Allah suruh kita buat dan tinggalkan. Tapi pasti ada sahaja alasan yang kita berikan. Benda yang haram pasti akan kita cuba sedaya upaya nak halalkan. Sedangkan dalam Al-Quran sudah terang-terang cakap tak boleh.
Jangan teman, jangan jadikan syaitan sebagai raja dalam hatimu. Jangan jadikan dia sebagai kawan. Allah ada berfirman dalam Al-Quran: " Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, kerana sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Surah Fatir 35:6) Begitu juga nafsu. Didiklah nafsumu. Didiklah ia agar bekerja untukmu bukannya dirimu yang bekerja untuknya. Sungguh, hidayah itu milik Allah. Hanya Dia yang berhak anugerahkan hidayah itu kepada orang-orang yang Dia nak. Tak semua orang bertuah. Kalau tak, mesti semua orang kat dunia ni jadi baik sangat. Dan tiadalah sengketa dan permusuhan kat dunia ni. Jadi jangan bersedih bila kita dah pernah berusaha untuk ajak kawan-kawan or family kita berubah ke arah lebih baik tapi mereka tak nak ikut. Sebab Allah dah berfirman dalam Al-Quran yang bermaksud: "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (Al-Qasas :56) Even Rasulullah saw pun tak mampu bagi hidayah kepada orang yang baginda sayangi. Ini menunjukkan hidayah itu hak mutlak Allah. Cuma tugas kita ialah berusaha menyampaikan hidayah yang terkandung dalam Al-Quran. Sama ada mereka terima atau tidak, semua itu kerja Allah. Jadi tersangatlah beruntung orang yang hatinya pernah disapa hidayah Allah. Gunakanlah peluang yang Allah berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Dan hidupmu bakal berubah. Better than before. Insya Allah. Hidayah ni tak kan datang bergolek. Hidayah Allah ibarat kunci yang hadir daripadaNya. Kunci kepada sebuah pintu kebaikan. Pintu tersebut hanya akan terbuka apabila orang tersebut berusaha untuk membukanya. Sekiranya tidak, maka pintu tersebut akan tertutup selama-lamanya walaupun kunci itu pernah berada di tangan kita.
Dan Allah ada berpesan dalam Al-Quran: " Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syurga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam)." (Surah Yunus 10: 25) Agaknya sudah berapa kali kita dipilih untuk diberikan hidayah tapi entah sudah berapa kali kita sudah menolaknya. Dan agaknya berapa kali lagi kita akan dipilih dan terus menolaknya? Itupun sekiranya Allah masih memberikan kita peluang untuk merasai nikmat hidayah-Nya. Bagaimana sekiranya hidayah itu tidak pernah kunjung tiba lagi? Andainya ini hidayah terakhir.. T_T Thabbit Qalbi Ya Rabb. Mari beramal dengan doa ni. "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (Surah Ali 'Imran 3: 8)

Haiwan Mabuk Makan Buah Alkohol

002 Sura al-Baqarah - Mishary al-Afasy

Isnin, 23 September 2013

UG14 - Bunga Larangan

Sayang - Menara

Kris-Penjara(HQ Audio)

Kris - Tiara HQ

Illusi-Segalanya Ku Terima(HQ Audio)

Medicine - Derita Seorang Filosuf

Jessica - Melati Putih (1991)

Jessica-Amira(HQ Audio)

Justice - Anggerik Impianku

ST12 - Putih Putih Melati (Fans Made MV with Lyrics)

Tegar -Aku Yang Dulu Bukan Yang Sekarang with lyrics

Mortal Kombat Theme Song Original

90's Best Dance Hits

DR ASRI - PERKARA2 YANG MEMBATALKAN AMAL

06-06-2013 dr. asri zainul abidin, turunnya nabi isa a.s

13-06-2013 dr asri zainul abidin, keluarnya yakjuj makjuj

sofea(kembali) - hujan

Ahad, 22 September 2013

Maghrib (Surah Al-Isra Verse 9-25) Shaykh Mishari Al-Afasy - مشاري العفا...

Yamaha R1 2009 pot Devil

Layan...... from South China Sea

Prof. Dr. Muhaya - Fikir, Rasa, Tindakan dan Hasil BAIK

(AsSohwah) V-Log Tips Mendidik Anak

Prof Dr Muhaya - Reset Minda Suami

Prof Dr Muhaya - Reset Minda Isteri

Prof. Dr. Muhaya - Kerugian Dalam Kehidupan

DR MUHAYA-LEMBUT DALAM KEHIDUPAN

Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!

Dr. Harun Din Menjampi Air Di Khalayak Umum

Cara Merawat Gangguan Jin Qarin / Ilmu Hitam / Sihir / Ifrit / Saka (Pes...

Darul Ribat : Saka Bomoh

Dato Dr Haron Din buang saka dan gelang ubat

DR ASRI-HAKIKAT DUKACITA

Jangan Menitiskan Air Mata Kerana Video Ini 2

Modern Talking - Cheri Cheri Lady

Bon Jovi - It's My Life

Eiffel 65 - Blue (Da Ba Dee)

ATC - Around The World (La La La La La) 2k11 (Buzz Freakz Remix)

Scorpions -Holiday- Acoustica

Scorpions -- You And I [[ Official Live Video ]] HD

Scorpions - Still Loving You

The final countdown-Europe

Tokio Hotel - Monsoon

Tokio Hotel • Dark Side Of The Sun • Lyrics

TOKIO HOTEL PAIN OF LOVE SUBTITULOS.flv

KRISTAL - KU MEMBISU

Kristal-Seragam Hitam

Handy Black-Tangan Hitam(HQ Audio)

Handy Black - Gypsi Kelana

HandyBlack-Natrah

aces - kehadiran rindu (80s rock)

Last Minute - Peperangan (Timur & Barat 1988)

Helter Skelter - Kejar Bayangan

HELTER SKELTER - Tiada Lagi Airmata

Samarkand - Bloodshed

Khamis, 25 April 2013

Ibu bapa bukan lagi figura untuk anak....

Hakikat.... » Bila mak kata dia teringat, kita jawab kita sibuk sangat. » Bila ayah kata dia rindu, kita jawab nantilah hujung minggu. » Bila mak minta kita pulang, kita jawab kita belum lapang. » Bila ayah minta kita singgah, kita jawab kerja kita belum selesai. » Bila hati kita terguris, kita kata “Mak memang tak pernah faham”. » Bila hati kita terhiris, kita kata “Ayah memang tak ambil kisah” Tetapi » Bila hati mak kita terguris, mak kata “Tak apa, dia masih muda”. » Bila hati ayah kita terhiris, ayah kata “Tak apa, belum sampai akalnya”. » Bila kita menangis tanda lapar, mak berlari bagai hilang kaki. » Bila kita merintih tanda derita, ayah bersengkang mata bagaikan tiada lena. » Bila kita sedih kerana gagal, mak setia membekalkan cekal. » Bila kita pilu kerana kecewa, ayah teguh berkata dia tetap bangga. Fikir-fikirkanlah * Hidup Bagai pusingan roda… sampai masanya kita pula akan menjadi ibu atau bapa… dan anak-anak kita akan melakukan apa yang pernah kita lakukan terhadap ibu dan bapa kita… dan kita akan bersabar dengan kerenah mereka sebagaimana ibubapa kita pernah lakukan kepada kita… dan begitulah seterusnya… janganlah mengabaikan mereka, JANGANLAH menghantar mereka ke RUMAH ORANG II TUA . JAGALAH mereka seperti mereka menjaga anda sewaktu kecil.. JANGAN ABAIKAN mereka .